Bangga Bisa Mengabdi kepada Tiga Raja Sekaligus Keikhlasan dan ketulusan tampaknya memang menjadi landasan utama bagi para abdi dalem Keraton Jogja untuk tetap setia mengabdi kepada rajanya. Inilah yang coba dibuktikan KRT Djoyoseputro, abdi dalem berusia 98 tahun dan mengaku telah mengabdi sejak Sultan HB VIII.
Dengan penuh kelembutan, lelaki yang sudah tidak mampu untuk berdiri dengan tegak ini sedang membersihkan kereta kencana yang siang itu dipamerkan di Pagelaran Keraton Jogja. Tubuhnya yang sudah uzur karena termakan usia, tak sedikit pun mengurangi semangatnya untuk melakukan tugas-tugasnya sebagai abdi dalem. Dengan sangat teliti, KRT Djoyoseputro yang memiliki nama kecil Sadimin ini membersihkan setiap inci kereta-kereta pusaka milik keraton. Dari sorot matanya yang mulai rabun, tampak ada pancaran kebanggaan atas statusnya sebagai abdi dalem yang sudah sekitar 73 tahun dijalaninya.
Menurut penuturannya, dia sudah mengalami pergantian raja hingga dua kali. Pertama mengabdi, Sadimin saat itu masih berusia 25 tahun dengan raja Keraton Jogja Sri Sultan HB VIII. "Yang paling lama saya ini menjadi abdi dalem saat Ngarso Dalem ingkang kaping songo. Dan sekarang ini saya masih menjadi abdi dalem keraton yang dipimping Ngerso Dalem ingkang kaping sedoso. Artinya saya ini pernah mengabdi kepada tiga raja sekaligus," kata Sadimin.
Sayangnya, dengan usia yang hamper satu abad ini sudah banyak pengalaman yang lepas dari ingatan pria yang tinggal di Rotowijayan ini. Namun ketika berbicara tentang tanggal lahirnya, Sadimin masih sangat ingat. "Saya lahir pada tanggal 15 Januari 1907," katanya. Sadimin juga lupa tugas-tugas apa saja yang dilakukan sejak karier pertamanya menjadi abdi dalem. Namun karena melihat usianya yang sudah tua, keraton sengaja menempatkannya pada pekerjaan yang ringan dan tidak membutuhkan banyak tenaga.
"Saat ini saya dipercaya untuk membersihkan kereta kencana," kata Sadimin singkat. Menurutnya, meski pekerjaannya sebagai abdi dalem tidak mendapatkan honor yang banyak, ada perasaan tenteram. Dari pekerjaannya ini, ia mengaku bisa memahami makna dari keikhlasan dan pengabdian yang tulus. Entah ada kaitannya atau tidak, yang jelas selama ini Sadimin bisa menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan. "Kulo ngraosaken tentrem, meski tidak bisa dikatakan kaya. Hidup di dunia ini tidak bertujuan untuk kaya, tapi cari ketentraman," imbuh KRT Djoyoseputro.